Mahabbatullah Dan Aplikasinya

 

Oleh : Wahyudi Ks

Mahabatullah (cinta kepada Allah) akan timbul manakala seorang hamba merasa begitu dekat dengan Allah, Perasaan ini akan tertanam dan tumbuh bila kita selalu taqarrub kepada Allah dengan ma’rifat yang kuat. Kita tahu dan sadar betapa Maha Kuat dan Perkasa-Nya Allah, namun betapa kasih dan sayang Dia kepada hamba-Nya. Ridla dan cinta-Nya senantiasa Dia curahkan kepada hamba-hamba-Nya yang ikhlas, selalu taqarrub kepada-Nya.

 

Allah pun cemburu ketika cinta-Nya dikhianati, yakni ketika seorang hamba lebih mengutamakan cinta kepada selain-Nya. Atau ketika hamba durhaka dan maksiat kepada-Nya. Bila kecemburuan Allah tak pernah kita hiraukan, maka akan berubah menjadi kemurkaan-Nya. Tak  seorangpun  yang akan sanggup menahan atau menghadapi kemurkaan Allah, Naudzubillahi min dzalik.

 

Kecintaan kepada Allah tidak akan ada ketulusan dan kemurnian kecuali dengan tauhid yang benar, menjadikan Allah sebagai loyalitas tertinggi dan otoritas mutlak dalam segala hal. Hal ini dilandasi dengan keyakinan kalimat  thoyyibah : Laa Maalika illallah, Laa Rozaqa illallah, Laa Waliyya illallah, Laa Hakima illallah, Laa ilaaha illallah, Laa Ma’buda illallah, Laa Makshuda illallah, Lam Yakhsyaa illallah. dst.

 

Kecintaan kepada Allah dengan cara yang benar akan melahirkan cinta prioritas yakni menjadikan Allah, Rasul dan Jihad diatas segala cinta selainnya. Ketaatannya kepada Rasul dan Jihad fii sabiilillah dirasakan nikmat dan tenteram karena ketinggiannya cinta pada Allah. Sungguh tidak bisa dipisah antara cinta kepada Allah, Rasul dan Jihad fii sabiilillah. Ketiga kecintaan tersebut merupakan satu paket yang tidak bisa dibagi-bagi.

 

Kecintaan kepada Allah sudah pasti harus dibuktikan dengan mencintai kalamullah atau ayat-ayat-Nya, baik yang qauliyah (tertulis), maupun yang Kauniyah (tidak tertulis). Maka tadarus, tadzabur dan amaliyah Al-Qur’an menjadi hal yang utama. Selanjutnya ia mencintai Rasul-Nya dan Jihad fii sabiilillah.

 

Seorang hamba yang sangat cinta kepada Allah, ia ridla untuk berkorban dengan segala resiko terpahit sekalipun. Ridla menahan lapar dan dahaga saat berjuang menegakkan sunnah, shabar ketika harus bermandikan peluh dan bersimbah darah di medan jihad. Tawakkal dan rasa kebersamaan dengan Allah senantiasa menyertai perjalanan hidupnya. Ini semua terjadi karena cinta telah melahirkan kedamaian dan ketenteraman, cinta telah membuahkan kerelaan dan kepasrahan totalitas, cinta mendorong diri pada kesiapan berkorban. Dengan cinta lah semua cobaan jadi terasa ringan, segala beban berat menjadi nampak kecil. Namun dengan cinta pula rasa takut dan khawatir ditinggalkan yang dicintai mengharu biru perasaan. Karena itu, berjihadlah dengan cinta yang penuh kepada Allah, dan sambutlah kehadiran sang kekasih sejati di taman hati, serta penuhilah titahnya untuk mentaati Allah, Rasul dan Jihad fii sabiilillah.

 

Loyalitas Kecintaan Manusia

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan diantara manusia, ada yang menjadikan dari selain Allah sebagai tandingan, mereka mencintainya seperti mencintai Allah. Dan orang-orang yang beriman sangat cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah : 165)

 

Berdasarkan ayat ini, sungguh sangat berbeda antara puncak kecintaan orang-orang beriman dan orang – orang yang kafir. Hal ini dikuatkan dengan firman Allah dalam QS. At-Taubah: 24.

 

“Katakanlah: ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.”

 

Firman Allah ini menjelaskan perbedaan antara orang beriman dan orang fasik. Allah mengambarkan orang-orang beriman puncak kecintaannya kepada 3 sasaran, yakni kepada Allah, Rasul dan Jihad fii sabiilillah.

 

Sedangkan orang-orang yang fasik, puncak kecintaannya kepada 8 sasaran, yakni; Bapak, anak, saudara, istri, kerabat, harta berlimpah, perniagaan (maisyah), dan tempat tinggal yang disenangi. Allah tidak akan memberi petunjuk kepada kaum yang fasik

 

Dalam mewujudkan ketulusan cinta, tidak selamanya berjalan mulus. Banyak halangan dan rintangan, rayuan dan godaan, cacian dan makian, bahkan ancaman dan intimidasi datang silih berganti. Hanya orang-orang yang ikhlas, yang dapat menikmati ketulusan cinta kepada Allah.

 

Kecintaan dan keta’atan kepada Allah harus juga dibuktikan dengan ta’at kepada Rasul-Nya, dan ta’at kepada Ulil Amri selama haq (benar), kemudian tanpa ragu-ragu ia beriman dan berjihad di jalan-Nya. (QS. An-Nisaa: 59, An-Nuur: 51, Al-Hujuraat: 15)

 

Cinta, Terimakasih dan Ma’af

 

Buah dari cinta kepada Allah dapat melahirkan hubungan harmonis dengan sesama manusia. Hal itu terjadi karena Islam tidak memisahkan hablu minallah dengan hablu minanas, tidak memisahkan antara aqidah (iman) dengan ukhuwwah (persaudaraan). Oleh karena itu, merawat cinta itu menjadi hal yang penting. Cinta kepada Allah dirawat dengan memprioritaskan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Mensyukuri nikmat-Nya serta memohon ampunan atas segala dosa yang telah dilakukan.

 

Demikian pula hubungan harmonis sesama muslim dapat dirawat denan cinta yang tulus, terima kasih dan ma’af.

 

Cinta, terima kasih dan maaf. Tiga kata yang sangat sederhana. Namun, kesederhanaannyalah yang membuat kita sering melupakannya. Sering mengabaikan dan meremehkannya. Padahal ketiga kata itu mampu membangkitkan rasa ‘penghargaan’ dan jati diri. Karena cinta, kita merasa disayangi, kita merasa hidup, kita merasa bernyawa. Karena cinta, kita merasa dihargai dan dibutuhkan. Karena cinta, kita tidak memerlukan pamrih. Ridla berkorban dengan segala resiko terpahit sekalipun. Ridla menahan lapar dan dahaga saat berjuang menegakkan sunnah. Shabar ketika harus bermandikan peluh dan bersimbah darah di medan jihad. Yah, cinta adalah refleksi ketulusan.

 

Begitupun juga dengan terima kasih, ada rasa penghargaan dalam ucapan itu, ada rasa penghormatan dan kesetaraan dalam ucapan terima kasih. Ada rasa saling membutuhkan dan kerendahhatian dalam ucapan terima kasih. Tidak ada keegoisan dan kesombongan dalam ucapan terima kasih. Tidak ada yang merasa lebih dan merasa kurang dalam ucapan terima kasih. Terima kasih adalah refleksi bahwa kita saling membutuhkan. Islam mengajarkan, cara kita mengungkapkan terima kasih dengan ucapan: Jazaakallahu khairan (Semoga Allah membalas kebaikanmu).

 

Adapun maaf adalah bukti kesadaran seseorang, penenang jiwa dan aplikasi dari sikap rendah hati dan cinta kepada Allah. Tidak ada dengki dan dendam dalam ungkapan mohon maaf. Kata maaf dapat menghapus kebencian, dapat menanamkan kecintaan, dapat menghilangkan kegelisahan. Rasa bersalah dapat lenyap dengan ungkapan maaf, rasa iri dapat terkikis dengan maaf yang tulus. Kata maaf merapatkan ukhuwwah (persaudaraan), kata maaf menumbuhkan marhamah (kasih sayang).

 

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam adalah sosok paling ideal dalam mewujudkan cinta, mengucapkan terima kasih dan meminta maaf dan memaafkan. Beliau sangat mencintai keluarganya, sahabatnya dan umatnya yang senantiasa menghidupkan sunnahnya. Kecintaannya pada sahabat mendorong pengorbanan luar biasa di Perang Uhud, Hunain dll. Ungkapan terima kasih dan kata maaf beliau ungkapkan, kepada budak sekalipun, tidak ada gengsi dan merasa hina untuk mengungkapkan kata-kata mulia tersebut. Bila perlu Rasulullah melakukan tebusan untuk mendapat kata maaf.

 

Saat Futuh Mekkah terjadi, ketika sahabat berkata " Ini hari pembalasan", Rasulullah bersabda; Bukan, "Ini hari kasih sayang". Maka beliau pun tidak menolak keislaman Wahsyi dan Hindun yang telah membunuh dan merobek dada Hamzah, pamannya. Sekiranya beliau pendendam, tentu tidak akan mau menerima keislaman Wahsyi dan Hindun.

 

Demikian pula di akhir hayatnya, beliau Shalallahu Alaihi Wasallam meminta maaf dan minta dibalas jika ada diantara yang hadir pernah disakitinya. Maka berkatalah seorang sahabat bernama Ukasah: Ya, Rasulullah, dalam suatu peperangan, aku pernah terkena pukulan olehmu, maka kini izinkan aku untuk membalasnya. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam mempersilahkannya, Ukasah berkata ; Ya Rasulullah, waktu itu aku dalam keadaan telanjang. Maka Rasul pun membuka bajunya. Namun, begitu dimuka baju Rasulullah, Ukasah merangkul tubuh beliau dan menuturkan : Ya Rasulullah, aku mencintaimu, Maka Rasulullah bersabda : "Engkau akan bersama orang yang engkau cintai." Rasa haru biru dan linangan air mata Rasul dan para sahabat saat itu menjadi saksi dan bukti saling mencintai karena Allah. (sumber: Sirah Nabawiyah, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam)

Sudahkah hari ini kita ungkapkan kata cinta, terima kasih dan maaf pada orang-orang yang terdekat dengan kita? Kepada kedua orang tua kita, adik kita, kakak kita, nenek kita, kakek kita, suami kita, isteri kita, sahabat kita, teman-teman kita, dan bahkan kepada para karyawan dan pembantu kita. Banyak cara untuk mengungkapan cinta, terima kasih dan maaf, antara lain: kejujuran pengakuan, perhatian, hadiah, senyuman dan do’a. Sudahkah kata cinta, terima kasih dan mohon maaf terucap dari lisan kita yang tulus pada orang-orang di sekitar kita?

Terutama dan paling utama, sudahkah rasa cinta, terima kasih dan mohon maaf atau ampun, kita lantunkan dari bibir ini untuk Sang Pemilik Jiwa kita? Allah Subhanallah Wa Ta’ala. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang mencintai dan dicintai Allah, Ridla kepada-Nya dan diridlai oleh-Nya. Amiin.

Wallahu a’lam bish showwaab



Pergilah Kemana Hati Membawamu..


 

 

Dan kelak disaat begitu banyak jalan terbentang dihadapanmu dan kau tak tau jalan mana yang harus kau ambil, janganlah memilih dengan asal saja, tetapi duduklah dan tunggulah sesaat. Tariklah nafas dengan dalam-dalam, dengan penuh kepercayaan. Seperti saat kau bernafas dihari pertamamu didunia ini. Jangan biarkan apapun mengalihkan perhatianmu, tunggulah dan tunggulah lebih lama lagi. Berdiam dirilah, tetap hening dan dengarkan hatimu, lalu ketika hati itu bicara, beranjaklah dan pergilah kemana hati membawamu.


 

Kisah Pohon Alpukat Dan Biji Benalu

 

Suatu hari, sebatang pohon alpukat menikmati sejuknya udara sore. Tiba-tiba keasyikannya terusik oleh sapaan dari sebutir biji benalu yang sedang diterbangkan angin kian kemari. "Selamat sore Kat", sapa benalu. "Oh, kamu Lu, selamat sore juga", balas alpukat. "Wah Kat, sekarang kamu sudah besar,ranting-rantingmu banyak, daunmu lebat, buahmu besar-besar", puji benalu. "Iya Lu, itu karena akar-akar saya banyak dan rajin menghisap sari-sari makanan dari dalam tanah", kata alpukat dengan bangga.

Kemudian benalu melanjutkan, "Hampir sepanjang hari saya diterbangkan angin, rasanya badan saya capek sekali, boleh tidak saya beristirahat di salah satu rantingmu, satu malam saja?". Tanpa berpikir panjang alpukat langsung mengabulkan permohonan sang benalu, "Jangankan satu benalu kecil, lima puluhpun saya masih tidak terasa,’ pikir alpukat.

Maka sejak itu benalu tinggal di pohon alpukat dan tanpa disadari oleh alpukat, benalu makin hari makin besar dan beranak banyak. Suatu hari alpukat melihat tubuhnya sudah kurus kering, saat itulah alpukat sadar bahwa benalu sudah merugikan dirinya. Lalu alpukat memutuskan untuk
menyuruh benalu meninggalkan tubuhnya. "Kat, semua  akar-akar saya sudah tertancap dalam tubuhmu jadi jangan pernah bermimpi kalau saya akan memenuhi permintaanmu", kata benalu sambil tertawa. Semakin
hari Alpukat makin kurus dan akhirnya mati karena benalu terus menghisap makanan dari tubuh alpukat tanpa belas kasihan.

Banyak orang yang bertindak seperti alpukat ini, waktu dosa-dosa kecil datang menggoda, dan hadir dengan segala daya tariknya, mereka tidak langsung menolaknya, mereka pikir, ’Ah itu hanya dosa kecil saja,
tidak akan memengaruhi keimanan saya’. Saya akan tetap rajin berdoa.

Terbukti bahwa setiap orang yang meremehkan dosa, yang kecil sekalipun, akan terjerat oleh dosa yang lebih besar lagi. Satu hal yang harus kita ingat, kalau hari ini kita melakukan satu dosa kecil, dosa kecil tersebut makin lama akan menjadi besar dan melahirkan dosa-dosa lain karena salah satu sifat dosa adalah melahirkan dosa. "Jauhilah nafsu orang muda. Jangan merasa diri kuat  iman sehingga Anda bebas bermain-main dengan dosa. Setiap perbuatan dosa, harus kita jauhi dan hindari."

Hidup Itu Sederhana

 

Kalau kita tanyakan pada seseorang yang kita anggap berhasil dalam hidupnya: Bagaimana mereka merencanakan semua keberhasilan itu? Hampir dapat dipastikan mereka akan menjawab: Tidak tahu. Sebagian besar malah mengatakan bahwa mereka sama sekali tak membayangkan hasil yang didapat. Sebuah jawaban yang jujur. Justru jika bukan itu jawabannya, kita boleh sedikit mengerutkan dahi tanda bertanya-tanya.

Kenyataannya, kita tak selalu bisa merancang hidup dalam bentuk blue print. Serumit atau seteliti apa pun itu, yang menyenangkan dalam hidup adalah seringkali hidup berjalan sangat sederhana, namun teramat kuat dan mendalam.

Percayalah, kita tidak berjalan di atas rencana-rencana. Hidup mengalir di atas tindakan-tindakan kita. Jika Anda menjajakan kue sepanjang jalan kota, Anda akan mendapatkan penghasilan yang Anda cari-cari. Itulah wajah kehidupan: Sederhana.

Jika Ia Sebuah CINTA

 

Jika ia sebuah cinta......
ia tidak mendengar...
namun senantiasa bergetar....

Jika itu sebuah cinta..
Memang sakit melihat orang yang ku cintai ..
Berbahagia dengan orang lain ..
Tapi lebih sakit lagi kalau orang ku cintai itu ..
Tidak berbahagia bersama ku..

Jika itu cinta..
Ia sering kali lari bila kita cari..
Namun cinta juga sering kita biarkan pergi ..
Saat dia menghampiri. .

Jika ia sebuah cinta.....
Ia tidak buta..
Namun senantiasa melihat dan merasa..

Jika itu cinta..
Maka jika ku jatuh aku tidak terhuyung-huyung. .
Konsisten tapi tidak memaksa..
Berbagi dan tidak bersikap tidak adil..
Mengerti dan mencoba untuk tidak banyak menuntut..
Sedih tapi tidak pernah menyimpan kesedihan itu.

Jika ia sebuah cinta.....
Ia tidak menyiksa..
Namun senantiasa menguji...

JIka itu cinta
Ia seperti kupu-kupu. ..
Tambah dikejar, tambah lari..
Tapi kalau dibiarkan terbang..
Dia akan datang di saat kamu tidak mengharapkannya. .

Jika itu cinta..
Aku seharusnya dapat melepaskannya
Untuk merelakannya. .
Berbahagia dengan yg lain..

Jika itu Cinta ..
Maka cinta akan berharga ..
kalau diberikan kepada seseorang yang menghargainya. .

Jika itu cinta..
Bukan bagaimana menjadi pasangan yg sempurna...
Tapi membiarkan kita menjadi diri sendiri..
Dan oleh karenanya kita menjadi sempurna..

Jika ia sebuah cinta...
Ia tidak memaksa..
Namun senantiasa berusaha..

Jika ia sebuah cinta.....
Ia tidak cantik atau ganteng..
Namun senantiasa menarik..

Jika ia cinta..
Bukan karena kau cantik atau ganteng..
Maka aku mencintaimu. .
Tapi karena aku mencintaimu. .
Maka kau selalu terlihat cantik dan ganteng..

Jika itu cinta..
Ia akan mulai dengan senyuman,
Tumbuh dalam pelukan
Dan siap jika harus berakhir dengan airmata.

Jika itu cinta
Ia tidak berkata, "Ini salah kamu",
Tapi ’Maafkan aku".
Bukan juga ’ Kamu dimana sih?",
Tapi " Aku disini ".
Tidak berkata " Gimana sih kamu?"
Melainkan "Aku mengerti kok".
Bukan "Harusnya kamu gak kayak gini",
Tapi "Aku cinta kamu seperti kamu apa adanya".

Jika ia sebuah cinta.....
Ia tidak datang dengan kata-kata..
Namun senantiasa menghampiri dengan hati..

Jika itu cinta..
Memang menyakitkan ketika aku tak dapat bersatu dengannya
Tapi akan lebih menyakitkan lagi
Apabila dia tidak tahu apa yang sesungguhnya kamu rasakan..

Jika ia sebuah cinta.....
Ia tidak terucap dengan kata..
Namun senantiasa hadir dengan sinar mata..

Jika itu cinta..
Memang menyakitkan mencintai orang yang tidak mencintaimu. .
Namun lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang..
Dan engkau tidak pernah punya keberanian untuk menyatakan cintamu padanya..

Jika ia sebuah cinta.....
Ia tidak hanya berjanji..
Namun senantiasa mencoba dan memenuhi..

Jika itu cinta..
Maka itu hanya sekeping..
Tidak seperti mata dan telinga..
Yang hampir selalu berpasang pasangan..
Karena Tuhan memberikan sekeping hati lainnya..
Pada seseorang untuk kita mencarinya, itulah Cinta.

Jika ia sebuah cinta.....
Ia mungkin tidak suci..
Namun senantiasa tulus..

Jika itu Cinta...
Engkau masih bisa tersenyum ..
Dan berkata aku turut berbahagia untukmu..
Ketika dia memilih mencintai orang lain..

Jika ia sebuah Cinta.....
Ia tidak hadir karena permintaan..
Namun hadir karena ketentuan...

Jika itu Cinta
Ia datang kepada orang yang masih punya harapan ..
Walaupun ia pernah dikhianati..

Jika itu Cinta..
Ia hadir kepada mereka yang masih percaya...
Walaupun ia pernah dicampakkan. .

Jika itu Cinta..
Ia tumbuh di hati mereka yang masih ingin mencintai..
Walaupun ia pernah dihempaskan

JIka itu Cinta..
Ia berkembang di relung hati ..
Mereka yang punya keberanian dan keyakinan ..
Untuk membangun kembali kepercayaan. .

Jika ia sebuah Cinta.....
Ia tidak hadir dengan kekayaan dan kebendaan...
Namun hadir karena pengorbanan dan kesetiaan...

Jika itu Cinta..
Ia akan membiarkan orang yang kamu cintai ..
Menjadi dirinya sendiri dan tidak merubahnya ..
Menjadi gambaran yang kamu kehendaki..

 

maaf sblmnya klo sdh ada yg apload, posting ini dari conectique.com